Classic Clock

Jumat, 30 Agustus 2013

BELAJAR TENTANG MENGENAL, MENGETAHUI DAMPAK DAN PENGELOLAAN LIMBAH HOTEL

Private Library of Simamora, Helmut Todo Tua
Environment, Research and Development Agency
Samosir Regency Government of North Sumatera Province
INDONESIA


Berikut merupakan kutipan ilmiah yang disusun dan digunakan Penulis sebagai referensi pribadi di dalam mendukung kegiatan kerja di kantor.


BELAJAR TENTANG MENGENAL, MENGETAHUI DAMPAK DAN PENGELOLAAN LIMBAH HOTEL

Dasar Peraturan tentang Pengertian Hotel  
Pengertian hotel sesuai dengan Surat Keputusan Menparpostel No. KM 37/PW. 340/MPPT-86, tentang Peraturan Usaha dan Penggolongan Hotel yaitu “hotel adalah suatu jenis akomodasi yang mempergunakan sebagian atau seluruh bangunan untuk menyediakan jasa penginapan, makanan dan minuman serta jasa penunjang lainnya bagi umum yang dikelola secara komersial”. Pengertian hotel menurut Surat Keputusan ini hendaknya dibedakan dengan penginapan atau losmen, dimana menurut Surat Keputusan ini penginapan atau losmen tidak termasuk dalam pengertian hotel. Sedangkan hotel juga menyediakan pemenuhan berbagai kebutuhan hidup sehari-hari seperti makanan, pencucian/laundry dan lain-lain bagi para pengunjungnya, sehingga dalam aktivitasnya hotel juga menghasilkan berbagai limbah cair dan sampah layaknya suatu komplek pemukiman penduduk.

Definisi Limbah cair Perhotelan 
Limbah cair perhotelan adalah limbah dalam bentuk cair yang dihasilkan oleh kegiatan hotel yang dibuang ke lingkungan dan diduga dapat menurunkan kualitas lingkungan. Karena aktivitas yang ada di hotel relatif sama seperti layaknya pemukiman, maka sumber limbah yang ada juga relatif sama seperti pada pemukiman dan fasilitas tambahan lainnya yang ada di hotel.

Kewajiban di dalam memberikan informasi Pengelolaan kualitas air dan Pengendalian pencemaran air 
Setiap orang yang melakukan usaha dan atau kegiatan berkewajiban memberikan informasi yang benar dan akurat mengenai pelaksanaan kewajiban pengelolan kualitas air dan pengendalian pencemaran air. Dalam rangka pengendalian pencemaran air sebagaimana diwajibkan diatas, maka setiap orang wajib mengambil langkah-langkah pencegahan pencemaran air yang diantaranya adalah sebagai berikut:
a. Pengurangan Pencemaran dari Sumbernya
Langkah yang sangat efektif dalam pencegahan pencemaran air adalah pencegahan dari sumber-sumber timbulan limbah. Penerapan peraturan dan penetapan tata guna lahan yang tepat serta pencegahan terjadinya erosi merupakan langkah kongkret dalam penurunan  tingkat pencemaran air permukaan akibat limpahan bahan padat dari daratan sepanjang sisi sungai atau sumber air permukaaan lainnya. Sedangkan di bidang industri kita mengenal teknologi produksi bersih yakni penerapan teknik dan manajemen yang menekan timbulnya limbah cair dengan cara penggunaan dan penggantian material bahan produksi ke bahan yang memungkinkan produksi limbah sekecil mungkin, mengubah proses inti produksi maupun proses pendukung menjadi proses yang menggunakan teknologi atau cara yang mampu memperkecil timbulnya limbah, dan apabila limbah terlanjur dihasilkan maka langkah yang diambil adalah menggunakannya kembali (reuse), mendaur ulang limbah tersebut menjadi bahan material untuk kegiatan lain (recycle). Langkah pengurangan limbah dari sumbernya akan memberikan dampak yang sangat signifikan terhadap timbulan/produksi air limbah.
b. Pengolahan Air Limbah
Jika pengurangan air limbah dari sumbernya sudah dilakukan secara optimal, maka air limbah yang terpaksa tetap dihasilkan selanjutnya harus diolah terlebih dahulu sebelum dibuang ke lingkungan. Tujuan pengolahan air limbah ini adalah untuk mengurangi kandungan pencemar air sehingga mencapai tingkat konsentrasi dan bentuk yang lebih sederhana dan aman jika terpaksa dibuang ke badan air di lingkungan. Proses pengurangan kandungan zat pencemar ini dapat dilakukan melalui tahapan penguraian sebagaimana dijelaskan berikut ini:
a. Proses alamiah
Tanpa bantuan tangan manusia dalam mengolah limbah yang mengandung pencemar, alam sendiri memiliki kemampuan untuk memulihkan kondisinya sendiri atau yang disebut “self purification”. Alam memiliki kandungan zat yang mampu mendegradasi pencemar dalam air limbah menjadi bahan yang lebih aman dan mampu diterima alam itu sendiri, diantaranya adalah mikroorganisme. Waktu yang diperlukan akan sangat tergantung dari tingkat pencemarannya yang otomatis berkorelasi dengan tingkat kepadatan penduduk. Jika kepadatan penduduk meningkat maka pencemaran pun akan sangat mungkin meningkat sehingga proses alam untuk membersihkan dirinya sendiri akan memakan waktu yang sangat lama. Sehingga akhirnya akan terjadi penumpukan beban limbah sampai dimana kemampuan alam untuk dapat melakukan pembersihan sendiri (self purification) jauh lebih rendah dibanding dengan jumlah pencemar yang harus didegradasi.
b. Sistem Pengolahan Air Limbah
Jika kapasitas alam sudah tidak sebanding dengan beban pencemar, maka satu-satunya langkah yang harus ditempuh adalah dengan cara mengolah air limbah tersebut dengan rangkaian proses dan operasi yang mampu menurunkan dan mendegradasi kandungan pencemar sehingga air limbah tersebut aman jika dibuang ke lingkungan. Untuk air limbah yang berasal dari aktivitas domestik dimana kandungan zat organic merupakan zat yang paling dominan terkandung didalamnya, pengolahan yang dapat dilakukan dapat berupa teknologi yang sederhana dan murah seperti cubluk kembar sampai pada pengolahan air limbah komunal menggunakan teknologi pengolahan yang mutakhir.
Metode 
Menurut Matsunaga T et al, (2007) metode Multi Soil layering (MSL) adalah metode pengolahan yang memanfaatkan kemampuan tanah dalam mengolah limbah cair. Metode ini dikenal murah dari segi biaya, tetapi membutuhkan lahan yang luas jika dibandingkan dengan sistem pengolahan mesin atau teknis. MSL juga dikenal sederhana, mudah dari segi pengoperasian dan pengontrolan, serta bersifat ramah lingkungan, karenamenggunakan bahan-bahan alam dan mudah didapatkan, diantaranya yaitu tanah humus dari daerah pegunungan (andisol), serbuk gergaji, arang kelapa, dan lain-lain sebagai lapisan anaerob, serta kerikil atau batuan lainnya sebagai lapisan aerob.

Karakteristik Fisik Limbah cair Hotel
Air limbah memiliki karakteristik fisik (bau, warna, padatan, suhu, kekeruhan), karakteristik kimia (organik, anorganik dan gas) dan karakteristik biologis (mikroorganisme). Karakteristik air limbah beserta dampak masing-masing terhadap lingkungan dan kesehatan manusia seperti dijelaskan berikut ini.
a. Kekeruhan
Kekeruhan dapat disebabkan oleh hadirnya bahan-bahan organic dan anorganik, misalnya, lumpur. Dari segi estetika, kekeruhan dirasakan sangat mengganggu. Selain itu kekeruhan juga merupakan indikator adanya kemungkinan pencemaran.
b. Warna
Sebagaimana halnya kekeruhan, warna yang hadir dalam air dengan intensitas yang melebihi batas, tidak bias diterima karena alasan estetika. Warna dapat juga merupakan indikator pencemaran limbah industri. Hal ini dapat pula dikaitkan dengan kesehatan manusia.
c. Bau dan Rasa
Penyebab bau dan rasa dapat berupa mikroorganisme seperti algae, oleh adanya gas seperti H2S dsb. Dari segi estetika, air yang memiliki rasa dan bau dipandang mengganggu.
d. Suhu dan residu
Suhu berpengaruh pada pemakaiannya, misalnya, air yang mempunyai suhu 0oC tidak mungkin dapat diterima, begitu pula untuk suhu air yang terlalu tinggi. Kadar residu yang tinggi dapat menyebabkan rasa tidak enak dan mengganggu pencernaan manusia.
e. Derajat pH
Dalam pemakaian air minum, pH dibatasi dikarenakan mempengaruhi rasa, korosifitas, dan efisiensi khlorinasi.
f. Kesadahan Ca dan Mg
Kesadahan berpengaruh pada pemakaian sabun, ketel pemanas air, ketel uap, pipa air panas dalam sistem plambing dan sebagainya. Mg dapat bersifat toksik, memberikan efek demam metal, iritasi pada kulit akan susah sembuh, dan lainnya.
g. Besi dan Mangan
Kehadiran Fe dan Mn dalam air dapat menimbulkan berbagai gangguan, misalnya, rasa dan bau logam, merangsang pertumbuhan bakteri besi, noda-noda pada pakaian, efek racun pada tubuh manusia seperti susunan syaraf pusat; koordinasi gerak otot; kerusakan sel hati; fibriosis; iritasi usus; kerusakan sel usus.
h. Nitrogen
Nitrogen dalam air hadir dalam berbagai bentuk sesaui dengan tingkat oksidasinya diantaranya Nitrogen netral, amoniak, nitrit dan nitrat. Efek terhadap kesehatan anatara lain: iritasi kulit, oedema paru-paru, kejang, pernapasan, mengancam keseimbangan asam basa dalam darah, stimulasi susunan syaraf pusat, kerusakan saluran pencernaan, dsb. Terhadap lingkungan kelebihan nitrogen dapat menyebabkan eutrofikasi.
i. Bahan anorganik lain
Bahan anorganik dalam air dapat berupa Ag, AL. As, Ba, Br, Cd, Cl, Cr, Cu, F, Hg, H2S, PO4, Pb, Se, Zn, dan lain-lain.
Dalam sistem MSL kondisi aerob dan anaerob merupakan faktor utama yang mempengaruhi penyisihan parameter pencemar. MSL terdiri dari campuran lapisan tanah yang mempunyai daya serap tinggi dan disusun dengan pola batu bata (Matsunaga T et al, 2007). Wakatsuki et al(1993) menambahkan bahwa metode MSL adalah metode yang memanfaatkan kemampuan tanah dalam mengolah limbah cair.

Sumber Limbah cair Hotel
 Sumber limbah cair perhotelan tersebut antara lain:
 Limbah dari kamar mandi dan toilet
 Limbah dari kegiatan di dapur/restaurant
 Limbah dari kegiatan pencucian/loundry
 Limbah dari fasilitas kolam renang

Karakteristik Limbah cair Hotel 
Karakteristik limbah cair dari perhotelan relatif sama seperti limbah cair domestik dari pemukiman, karena aktivitas-aktivitas yang ada di hotel relatif sama seperti aktivitas yang ada di lingkungan pemukiman. Sementara jumlah limbah yang dihasilkan dari perhotelan tergantung dari jumlah kamar yang ada dan tingkat huniannya. Disamping itu juga dipengaruhi oleh fasilitas tambahan yang ada di hotel tersebut.

Sifat-sifat Limbah Perhotelan
Limbah perhotelan pada umumnya mempunyai sifat-sifat sebagai berikut:
1. Senyawa fisik:
 Berwarna
 Mengandung padatan
2. Senyawa kimia
 Kimia organik:
 Mengandung karbohidrat
 Mengandung minyak dan lemak
 Mengandung protein
 Mengandung unsur surfactan antara lain detergen dan sabun
 Kimia inorganik:
 Mengandung alkalinity
 Mengandung Khloride
 Mengandung Nitrogen
 Mengandung Phospor
 Mengandung Sulfur
3. Senyawa biologi :
 Mengandung protista dan virus

Rata-rata karakteristik limbah perhotelan adalah sebagai berikut:
 Konsentrasi BOD di dalam air limbah 200 – 300 mg/lt.
 Konsentrasi SS di dalam air limbah 200 –250 mg/l.


Parameter Air Buangan Kegiatan Perhotelan
1. Biochemical Oxygen Demand, BOD (BOD5)
BOD5 berarti analisis Biochemical Oxygen Demand yang diinkubasi selama 5 hari. BOD merupakan ukuran jumlah zat organik yang dapat dioksidasi oleh bakteri aerob/jumlah oksigen yang digunakan untuk mengoksidasi sejumlah tertentu zat organik dalam keadaan aerob. Menurut Mahida (1981) BOD akan semakin tinggi jika derajat pengotoran limbah semakin besar. BOD merupakan indikator pencemaran penting untuk menetukan kekuatan atau daya cemar air limbah, sampah industri, atau air yang telah tercemar. Nilai BOD yang tinggi dapat menyebabkan penurunan oksigen terlarut tetapi syarat BOD air limbah yang diperbolehkan dalam suatu perairan di Indonesia adalah sebesar 30 ppm.
Kristanto (2002) menyatakan bahwa uji BOD mempunyai beberapa kelemahan diantaranya adalah:
 Dalam uji BOD ikut terhitung oksigen yang dikonsumsi oleh bahan-bahan organik atau bahan-bahan tereduksi lainnya, yang disebut juga Intermediate Oxygen Demand.
 Uji BOD membutuhkan waktu yang cukup lama, yaitu lima hari.
 Uji BOD yang dilakukan selama lima hari masih belum dapat menunjukkan nilai total BOD, melainkan ± 68 % dari total BOD.
 Uji BOD tergantung dari adanya senyawa penghambat di dalam air tersebut, misalnya germisida seperti klorin yang dapat menghambat pertumbuhan mikroorganisme yang dibutuhkan untuk merombak bahan organik, sehingga hasil uji BOD kurang teliti.

2. Chemical Oxygen Demand (COD)
Untuk mengetahui jumlah bahan organik di dalam air dapat dilakukan suatu uji yang lebih cepat daripada uji BOD, yaitu berdasarkan reaksi Kimia dari suatu bahan oksidan. Uji tersebut disebut uji COD (Chemical Oxygen Demand), yaitu suatu uji yang menentukan jumlah oksigen yang dibutuhkan oleh bahan oksidan, misalnya kalium dikhromat, untuk mengoksidasi bahan-bahan organik yang terdapat di dalam air.
Uji COD biasanya menghasilkan nilai kebutuhan oksigen yang lebih tinggi daripada uji BOD karena bahan-bahan yang stabil terhadap reaksi biologi dan mikroorganisme dapat ikut teroksidasi dalam uji COD. Sebagai contoh, selulosa sering tidak terukur melalui uji BOD karena sukar dioksidasi melalui reaksi biokimia, tetapi dapat terukur melalui uji COD. Bahkan yang tidak dapat didegradasi secara biologis tersebut akan didegradasi secara kimiawi melalui proses oksidasi.
Kelebihan uji COD disbanding uji BOD adalah analisa COD hanya memakan waktu ± 3 jam, sedangkan analisis BOD5 memerlukan 5 hari. Untuk menganalisa COD antara 50 sampai 800 mg/l, tidak dibutuhkan pengenceran sampel sedang pada umumnya analisa BOD selalu membutuhkan pengenceran. Ketelitian dan ketepatan (reproducibility) uji COD adalah 2 sampai 3 kali lebih tinggi dari uji BOD. Gangguan dari zat yang bersifat racun terhadap mikroorganisme pada uji BOD, tidak menjadi soal pada uji COD.
Tetapi uji COD mempunyai kekurangan yaitu uji COD hanya merupakan suatu analisa yang menggunakan suatu reaksi oksidasi kimia yang menirukan oksidasi biologis (yang sebenarnya terjadi di alam), sehingga merupakan suatu pendekatan saja. Karena hal tersebut di atas maka uji COD tidak dapat membedakan antara zat-zat yang sebenarnya tidak teroksidasi (inert) dan zat-zat yang teroksidasi secara biologis. Selain itu uji COD juga dapat menghasilkan racun dari reaksi oksidasi kimianya dan juga dapat mengurangi oksigen terlarut dalam air.
3. Total Suspended Solids (TSS)
Total Suspended Solids atau total padatan tersuspensi adalah bahan-bahan tersuspensi (diameter >1μm) yang tertahan pada saringan millipore dengan diameter pori 0,45 μm. TSS terdiri atas lumpur dan pasir halus serta jasad-jasad renik terutama yang disebabkan oleh kikisan tanah atau erosi yang terbawa ke dalam badan air. Padatan ini terdiri dari senyawa-senyawa anorganik dan organik yang terlarut dalam air, mineral dan garam-garamnya. Penyebab utama terjadinya TSS adalah bahan anorganik berupa ion-ion yang umum dijumpai di perairan. Sebagai contoh air buangan sering mengandung molekul sabun, deterjen dan surfaktan yang larut air, misalnya pada air buangan rumah tangga. Penentuan zat padat tersuspensi (TSS) berguna untuk mengetahui kekuatan pencemaran air limbah domestik, dan juga berguna untuk penentuan efisiensi unit pengolahan air.
Penentuan zat padat tersuspensi (TSS) berguna untuk mengetahui ke kuatan pencemaran air limbah domestik, dan juga berguna untuk penentuan efisiensi unit pengolahan air. Tetapi jika nilai TSS semakin tinggi maka dapat mempengaruhi turbiditas (kekeruhan) pada perairan, selain itu juga dapat mempengaruhi kehidupan akuatik karena jika turbiditas terus bertambah maka oksigen dan cahaya matahari terhalang masuk kedalam perairan sehingga mengganggu proses fotosintesis bagi kehidupan akuatik.
4. Minyak dan Lemak
Minyak dan Lemak merupakan komponen utama bahan makanan yang juga dapat didapat di dalam air limbah. Kandungan zat lemak dapat ditentukan dan disajikan melalui contoh air limbah dengan heksana. Selain heksana sebagai pelarut juga dapat dapat dipergunakan keroksin, pelumas. Lemak dan minyak membentuk ester dan alcohol atau geliserol dengan asam gemuk. Geliserid dari asam gemuk ini berupa cairan pada keadaan biasa dikenal sebagai minyak dan apabila dalam bentuk padat dan kental dikenal sebagai lemak. Lemak tergolong pada benda organik yang tetap dan tidak mudah untuk diuraikan oleh bakteri. Bahan-bahan asam dapat menghancurkannya untuk menghasilkan geliserin dan asam gemuk. Pada keadaan basa seperti sodium hidroksida, geliserin dibebaskan dan garam basa dari asam gemuk akan terbentuk. Adapun garam basa ini dikenal sebagai sabun, seperti halnya dengan lemak merupakan zat yang stabil.
Biasanya sabun dibuat melalui proses saponifikasi dari lemak dengan sodium hidroksid. Mereka ini larut didalam air apabila berada pada situasi basa, maka garam sodium berubah menjadi garam kalsium dan magnesium serta asam gemuk yang merupakan bahan sabun yang tidak larut dalam air. Minyak dan Lemak dapat sampai kesaluran air limbah berasal dari kegiatan di dapur/restaurant hotel. Sebagian besar Minyak atau Lemak mengapung di permukaan air limbah, akan tetapi ada juga yang mengendap terbawa oleh lumpur. Dalam mengelola air limbah, Minyak dan Lemak dapat membawa dampak buruk yang dapat menimbulkan permasalahan pada dua hal yaitu pada saluran air limbah dan pada bagunan pengolahan. Apabila lemak tidak dihilangkan sebelum dibuang kesaluran air limbah dapat mempengaruhi kehidupan yang ada dipermukaan air dan menimbulkan lapisan tipis dipermukaan sehingga membentuk selaput. Selaput tersebut dapat dapat mempengaruhi kehidupan akuatik karena selaput yang terbentuk dari Minyak dan Lemak tersebut dapat menghalangi masuknya oksigen dan cahaya matahari kedalam perairan sehingga mengganggu proses fotosintesis bagi kehidupan akuatik. Kadar lemak sebesar 15-20 miligram/liter merupakan batas yang bisa ditolerer apabila lemak ini berada di dalam air limbah.
5. Derajat Keasaman (pH)
Konsentrasi ion hidrogen merupakan salah satu parameter yang penting, baik bagi air alamiah maupun air limbah. Cara yang umum dalam menyatakan kekuatan ion hidrogen adalah dengan menggunakan istilah pH. Rentang pH yang sesuai bagi kelangsungan hidup sebagian besar kehidupan biologis memiliki nilai yang relatif sempit dan kritis yaitu 6 hingga 9. Air limbah yang memiliki konsentrasi ion hidrogen yang ekstrim akan sulit ditangani oleh proses pengolahan biologis, dan jika konsentrasi ion hidrogen ini tidak diubah terlebih dahulu sebelum dibuang ke lingkungan, maka air buangan ini dapat mengubah konsentrasi ion hidrogen pada badan air di lingkungan. Air limbah yang dibuang ke lingkungan agar dapat ditangani, rentang pH yang masih diijinkan biasanya berkisar antara 6,5 hingga 8,5.
Nilai pH dari suatu larutan biasanya diukur menggunakan pH meter. Selain itu dapat juga digunakan berbagai jenis kertas pH dan larutan indikator yang dapat berubah warna pada nilai pH tertentu. pH larutan ditentukan dengan membandingkan warna dari kertas pH atau larutan dengan serangkaian warna baku.

Contoh Kasus Penggunaan Metode Pengolahan
Metode MSL ini telah diuji untuk pengolahan limbah cair domestik di beberapa negara, seperti Jepang (Wakatsuki et al, 1993; Masunaga et al, 2007) dan Thailand (Attananda et al, 2000).
Sementara di Indonesia, metode MSL diteliti dan diuji untuk pengolahan limbah cair industri kelapa sawit, crumb rubber (karet), tahu, dan keripik ubi kayu. Hasil yang didapat secara keseluruhan cukup memuaskan (Salmariza, 2001; Salmariza, 2002; Salmariza, 2003; Kasman, 2004).
Perbedaan penelitian kali ini dengan yang pernah dilakukan di Jepang oleh Wakatsuki et al, 1993; Masunaga et al, 2007 dan Thailand oleh Attananda et al, 2000 adalah dari struktur lapisan aerob dan anaerob reaktor MSL-nya. Lapisan aerob (batuan) reaktor MSL yang umumnya digunakan di Jepang dan Thailand adalah zeolit sedangkan pada penelitian ini menggunakan Efisiensi Metode Multi Soil Layering (MSL) dalam Penyisihan COD dari Limbah Cair Hotel kerikil. Untuk lapisan anaerob reaktor MSL digunakan campuran tanah dengan arang, serta tanah dengan serbuk gergaji, berbeda dengan reaktor-reaktor MSL yang digunakan di Jepang dan Thailand dimana lapisan anaerobnya terdiri atas campuran tanah, bijih besi, dan beberapa jenis material organik. Campuran material yang digunakan pada lapisan anaerob ini sedikit berbeda pula dengan lapisan anaerob pada reaktor MSL untuk pengolahan limbah cair industri di Indonesia yang menambahkan serbuk gergaji sebagai material organik.

Contoh Kasus
Limbah cair yang digunakan pada penelitian ini adalah limbah cair Hotel “X”. Hotel “X” merupakan salah satu hotel berbintang yang ada di Kota Padang yang terletak di kawasan jalan Juanda. Hotel “X” terdiri dari 6 lantai dengan luas bangunan ± 13.000 m2. Aktivitas perhotelan menghasilkan limbah cair, yang berasal dari kamar mandi, dapur, dan laundry.
Kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa limbah yang berasal dari kamar mandi (kloset dan floor drain) dialirkan ke bak kontrol lalu di salurkan ke septik tank, dan diresapkan ke dalam bidang resapan. Limbah dapur sebelum di buang ke badan air penerima, dialirkan ke bak penangkap minyak dan lemak terlebih dahulu, untuk memisahkan minyak dan lemak dari limbah cair lainnya.
Pemeriksaan terhadap COD sangat diperlukan untuk mengetahui jumlah konsentrasi zat organik yang terkandung dalam air limbah. Nilai COD tinggi akan mengakibatkan miskinnya kandungan oksigen di badan air sehingga mengganggu ekosistem perairan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menentukan efisiensi penyisihan COD pada limbah cair hotel,
serta mempelajari pengaruh faktor variasi material organik dalam campuran tanah pada lapisan anaerob dan variasi Hydraulic Loading Rate (HLR) terhadap efisiensi pengolahan limbah cair hotel dengan metode MSL.
Limbah cair yang digunakan adalah limbah cair efluen dapur setelah melewati bak penangkap minyak dan  lemak dan limbah cair laundry. Limbah cair dialirkan secara kontinu ke dalam 2 reaktor MSL yang berbeda lapisan anaerobnya dengan variasi HLR yakni 500, 750 dan 1.000 l/m2hari (Jurnal Teknik Lingkungan UNAND 9 (2) : 121-128 (Juli 2012).



Sumber : Ragam literatur dari media net yang membahas tentang pengelolaan dan pengolahan limbah hotel.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar